Pencemaran mikroplastik di ekosistem perairan menjadi masalah global, dengan UNEP memperkirakan 19–23 juta ton limbah plastik masuk ke perairan setiap tahun. Partikel mikroplastik yang berukuran kurang dari 5 mm dapat tertelan organisme dan masuk ke rantai makanan, sehingga deteksinya penting untuk memantau pencemaran.
Dosen Teknik Kimia Universitas Pertamina (UPER), Dr. Nonni Soraya Sambudi, bersama peneliti dari BRIN, Universitas Indonesia, Universiti Teknologi Malaysia, dan Universiti Teknologi PETRONAS, memanfaatkan limbah pelepah sawit menjadi nanomaterial carbon quantum dots (CQDs) untuk mendeteksi mikroplastik. Lignin dari pelepah sawit diolah menjadi CQDs pada suhu 180°C, 190°C, dan 200°C, dengan hasil terbaik pada 200°C menghasilkan pancaran cahaya kuat dan ukuran partikel rata-rata 4,05 nanometer.
Pengujian dengan mikroplastik jenis PE dan PET menunjukkan perubahan intensitas cahaya CQDs, yang berpotensi menjadi indikator keberadaan mikroplastik. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Technology Januari 2025 ini membuka peluang pemanfaatan limbah sawit untuk deteksi pencemaran, meski masih perlu disempurnakan agar konsisten.
Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menyatakan riset ini sejalan dengan komitmen kampus dalam menjawab tantangan lingkungan melalui teknologi berkelanjutan dan menjadi bagian dari pembelajaran di Program Studi Teknik Kimia.