Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Indonesia berbulan-bulan, mengepung permukiman dan mengancam kesehatan masyarakat melalui asap yang tebal, sementara pemerintah belum menetapkan status bencana nasional. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menjelaskan kondisi masih dapat dikelola, meski laporan BNPB menunjukkan enam provinsi fokus, antaranya Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penanganan maksimal, dengan emphasis pada operasi darat karena asap tebal menghambat operasi udara, serta pengendalian cuaca melalui BMKG. Data SiPongi mencatat sekitar 16.000 titik panas Agustus-September dan 12.183 deteksi 1-12 Oktober, dengan luas kebakaran hingga 202.004,30 hektare Januari-Juli 2026, naik 69% tahunan. Kabut asap lintas batar telah menyelimuti Malaysia, Singapura, hingga Filipina, dengan indeks kualitas udara hingga kategori berbahaya. Presiden juga menekankan pencegahan presisi dari tingkat daerah melalui koordinasi Babinkamtibmas, Babinsa, dan Karang Taruna, serta target secepat mungkin untuk menutup kebakaran.