Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera Selatan menjadi tantangan besar karena sifat hidrofobik lahan gambut yang membuat api sulit dipadamkan, terutama setelah mengalami pengeringan ekstrem. Penelitian dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa untuk memadamkan satu kilogram gambut dibutuhkan sekitar enam liter air, dan untuk satu hektare lahan gambut diperlukan antara 200.000 hingga satu juta liter air. Lokasi kebakaran yang sulit diakses serta metode water bombing yang dinilai tidak efektif memperparah situasi, sehingga diperlukan upaya pemadaman yang lebih besar. Para ahli mendorong pengembangan sistem deteksi dini bara api menggunakan kamera termal inframerah dan injeksi air ke lapisan gambut untuk mempercepat proses pemadaman, serta perlunya teknologi pendeteksian di tingkat korporasi.