Perkembangan peradaban manusia selalu didorong oleh kemampuan memindahkan beban pekerjaan kepada teknologi, mulai dari tulisan, buku, hingga kalkulator dan mesin pencari.
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) melanjutkan tradisi tersebut dengan meningkatkan produktivitas dan membantu menganalisis data dalam skala besar.
Namun, AI membawa perubahan mendasar yang berbeda dari teknologi sebelumnya, karena ia mulai memasuki wilayah pembentukan pikiran manusia.
Hal ini memunculkan pertanyaan krusial mengenai bagian mana dari proses berpikir yang harus tetap menjadi hak dan kedaulatan manusia di era AI.