Ancaman Super El Nino 2026–2027 menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kemarau panjang, tekanan panas ekstrem, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. BRIN memperkuat mitigasi melalui kerja sama riset lintas negara untuk memahami dinamika El Nino dan menerjemahkannya menjadi langkah kesiapsiagaan yang tepat. Peneliti BRIN menyoroti pola dampak yang semakin beragam antarwilayah, dengan Kalimantan dan Papua rentan terhadap tekanan panas, sementara simulasi iklim NASA memproyeksikan ancaman kekeringan berlanjut hingga 2027–2028.
Sinyal kuat Super El Nino terdeteksi dari anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa, dengan peluang 75% pada Oktober–Desember 2026 menjadi peristiwa bersejarah yang melampaui rekor sejak 1950-an. Dampak lokal seperti gelombang tinggi dan banjir pesisir juga diperkirakan terjadi di wilayah seperti Pantai California. Kolaborasi BRIN dan Scripps Institution of Oceanography menjadi langkah awal kerja sama jangka panjang, termasuk mobilisasi kapal riset Baruna Jaya dan penyusunan proposal riset mendalam untuk memperkuat kesiapsiagaan lintas negara.