Seluruh personel AS dan koalisi terakhir meninggalkan Pangkalan Udara Erbil pada 30 September, yang disebut Pentagon sebagai keberangkatan tertib dan diklaim Gedung Putih sebagai kemenangan. Namun, Asia Times menegaskan ini bukan penarikan pertama; pola serupa terjadi pada 2011 sebelum ISIS bangkit dan memaksa AS kembali. Lebih dari 4.500 tentara AS tewas tanpa kawasan menjadi lebih stabil, dan AS tidak benar-benar mundur dari Timur Tengah, melainkan memindahkan markas anti-ISIS ke Yordania serta mempertahankan pasukan di Suriah dan pangkalan Teluk. Washington juga membuka front baru melawan Iran bersama Israel pada 28 Februari, tepat setelah penarikan yang dinegosiasikan pemerintahan Biden pada 2024.
Dampak ekonomi global terasa melalui harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel (Brent US$100,07). Bagi Indonesia sebagai importir minyak netto, hal ini menaikkan biaya impor BBM, melebarkan defisit neraca perdagangan, dan memperbesar beban subsidi energi jika harga jual bahan bakar bersubsidi ditahan. Tekanan fiskal berlapis muncul karena subsidi berpindah ke APBN tanpa inflasi langsung terlihat, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5,26% dan rupiah di kisaran Rp17.945 memperbesar biaya impor serta menekan selera risiko investor terhadap aset negara berkembang, tercermin dari IHSG di level 6.010.
Sektor yang terdampak meliputi transportasi, logistik, perikanan, penerbangan, dan industri petrokimia, sementara emiten energi hulu justru diuntungkan jika harga minyak tetap tinggi. Yang perlu dipantau adalah apakah Brent bertahan di atas US$100; jika ya, asumsi subsidi energi dalam APBN berisiko dihitung ulang. Selain itu, respons resmi Washington terhadap kerangka bertahap Iran yang menukar akses Selat Hormuz dengan pencabutan blokade ekonomi masih belum jelas, sehingga premi risiko geopolitik tetap terpasang pada harga minyak dan biaya impor Indonesia.
Sinyal penting datang dari reaksi pasar Teluk yang mayoritas melemah setelah Trump menolak pelonggaran sanksi Iran, serta kabar kedua pihak berbicara terpisah dengan mediator. Arah dua sinyal ini akan menentukan apakah premi risiko mengendur atau meruncing. Bagi Indonesia, pergeseran postur militer AS di Timur Tengah relevan melalui kanal energi, dengan risiko yang sering terlewat berupa tekanan fiskal tanpa inflasi langsung jika subsidi energi ditahan.