Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok Palestina melaporkan bahwa pihak pendudukan Israel bertanggung jawab atas hampir 89 persen kebakaran properti warga Palestina di Tepi Barat sejak awal 2023 hingga pertengahan 2026.
Dari total 900 kasus kebakaran yang didokumentasikan, 799 di antaranya dianggap dilakukan oleh pemukim dan 101 kasus oleh tentara Israel. Jumlah insiden terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan Nablus serta Ramallah dan al-Bireh menjadi wilayah paling terdampak.
Dalam periode yang sama, serangan tersebut memaksa 121 komunitas Palestina mengungsi sebagian atau seluruhnya, dan 46 di antaranya dikosongkan sepenuhnya. Sebanyak lebih dari 6.200 warga, termasuk 3.000 anak-anak, terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Komisi menyalahkan lingkungan pemerintahan Israel yang memberikan keleluasaan dan impunitas bagi para pemukim. Pos permukiman ilegal disebut menjadi titik awal serangan, termasuk aksi pembakaran dan pembatasan akses warga terhadap tanah serta sumber air mereka.