Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi kembali meluas dengan luas mencapai ribuan hektare, menurut data resmi BPBD 2.998 hektare hingga 14 September 2026, sementara Walhi Jambi mencatat 12.317 hektare berdasarkan citra satelit. Walhi menilai karhutla tidak lepas dari eksploitasi lahan gambut puluhan tahun oleh perusahaan perkebunan dan industri ekstraktif yang mengeringkan gambut melalui kanalisasi, membuat lahan mudah terbakar.
Salah satu perusahaan yang disorot adalah PT WKS, yang konsesinya beberapa kali terbakar sejak 2015. Walhi menuduh perusahaan melakukan pengeringan gambut dan monopoli air melalui sekat kanal, yang berdampak pada kekeringan lahan warga sekitar. PT WKS membantah tuduhan tersebut, mengklaim menerapkan manajemen air untuk mitigasi dan membuka lahan tanpa bakar.
Warga merasakan dampak langsung, seperti kebakaran lahan, banjir saat musim hujan, serta krisis udara bersih yang memicu lonjakan ISPA di Kota Jambi. Dinas Kesehatan mencatat 3.437 kasus ISPA pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Warga menganggap karhutla sebagai bencana tahunan yang terus berulang tanpa penanganan tuntas.