PT Angkasa Pura Indonesia mengungkap detik-detik penutupan total Bandara Soekarno-Hatta akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada 6 September 2026. Direktur Operasi AP, Agus Hariyadi, menyebut peringatan dini sudah disuarakan sejak 5 September sore, dengan maskapai Pelita Air sebagai pihak paling awal mendorong penutupan demi keselamatan.
Koordinasi intensif dilakukan melalui WhatsApp dengan Dirjen Perhubungan Udara pada 5 September sekitar pukul 16.30 WIB untuk mengantisipasi sebaran abu yang berpotensi meluas ke Jakarta. Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah I Soekarno-Hatta kemudian memutuskan penghentian total operasional bandara. Agus menyebut keputusan ini sebagai sejarah karena selama 35 tahun bekerja di Soetta, belum pernah terjadi penutupan total, bahkan saat pandemi COVID-19 hanya penutupan sebagian.
Direktur Safety Pelita Air, Eriza Muslim, membenarkan pihaknya berulang kali memperingatkan otoritas berdasarkan data dan pengalaman menghadapi erupsi Gunung Sinabung. Ia mengungkapkan bahwa di kokpit sudah tercium bau belerang, sehingga mereka melakukan mitigasi dengan memantau data satelit Himawari setiap tiga hingga enam jam dan berkoordinasi dengan BMKG serta Airnav.
Penutupan penerbangan memang bukan pilihan populis karena memicu kerugian komersial dan berdampak pada ketepatan waktu, namun Eriza menegaskan keselamatan penumpang dan awak kabin adalah prioritas utama. Bandara Soekarno-Hatta ditutup selama dua hari, dari 6 hingga 8 September, imbas paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.