Pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas upaya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang kapal komersial di Selat Hormuz. Serangan tersebut memicu Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Erbil, Irak, dan Yordania.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan empat orang, termasuk seorang anak kecil, tewas dan lebih dari 50 orang terluka setelah serpihan proyektil AS menghantam sebuah pesta pernikahan di Sirik, Iran selatan. Iran kemudian menembakkan rudal balistik ke pangkalan Marinir AS di Aqaba, Yordania, yang berhasil dicegat oleh pertahanan udara Yordania tanpa menimbulkan korban jiwa.
Sistem pertahanan udara Kuwait juga dilaporkan merespons serangan rudal Iran, sementara ledakan terdengar di Bahrain. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan balasan yang jauh lebih besar jika ketegangan terus meningkat, meski militer AS menegaskan tidak pernah menargetkan warga sipil.
Konflik ini kembali pecah setelah kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Juni 2026 berakhir. Sebelumnya, AS juga memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan merilis kampanye sanksi baru pada Agustus untuk mengisolasi Teheran, yang berujung pada pertukaran serangan antara kedua negara.