Houthi Perketat Bab el-Mandeb, Pasokan Minyak Global Terancam

Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 11.06
Houthi Perketat Bab el-Mandeb, Pasokan Minyak Global Terancam

Sumber Berita Asli

Feedberry — Bisnis, Pasar & Kebijakan Indonesia

Baca di Website Asli ↗
Konflik Yaman kembali memanas setelah kelompok Houthi (Ansar Allah) memperketat kontrol atas Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan Samudra Hindia. Mereka juga menyerang fasilitas minyak Arab Saudi, kapal tanker, dan bandara utama Riyadh. Serangan terbaru menghentikan pemompaan minyak melalui East-West Pipeline, jalur ekspor Riyadh sejak penutupan Selat Hormuz. Eskalasi ini menyentuh dua jalur minyak paling strategis dunia sekaligus—Hormuz dan Bab el-Mandeb—sehingga langsung mengancam pasokan energi global. Situasi kian rumit dengan keterlibatan berbagai aktor: Iran mendukung Houthi, Saudi mendukung pemerintah Yaman (PLC), AS di sisi Riyadh, sementara Rusia dan China selaras dengan Iran. Turki dan Pakistan bahkan sepakat mengaktifkan pakta pertahanan bersama untuk mengerahkan pasukan bila Saudi diserang lagi. Presiden AS Donald Trump disebut belum menemukan formula untuk mengakhiri konflik, sementara Houthi memperluas keuntungan wilayah dengan target menguasai seluruh Yaman. Bagi Indonesia, dampaknya menular lewat jalur energi. Sebagai importir minyak netto, kenaikan harga minyak mentah global langsung memperbesar biaya impor BBM dan beban subsidi energi. Brent berada di US$101,31 dan rupiah di level Rp17.878—kombinasi harga minyak tinggi dan kurs lemah menekan neraca dagang sekaligus memperberat ruang fiskal. Sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan penerbangan paling cepat merasakan kenaikan biaya operasional, sementara emiten energi hulu berpotensi menerima dampak positif. Yang perlu dipantau: pergerakan harga Brent dalam 7-14 hari ke depan, status Selat Bab el-Mandeb dan Hormuz, pernyataan resmi pemerintah dan OPEC, serta kurs USD/IDR. Risiko utama adalah gangguan berkepanjangan yang mengancam pasokan minyak global dan menaikkan premi risiko yang menular ke rupiah dan IHSG.

Berita Terkait Lainnya