Bencana galodo (banjir bandang) menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, pada 21 September 2026 setelah hujan intensitas tinggi memicu longsoran di hulu Batang Laso. Material lumpur, batu, kayu, dan air menerjang kawasan serta sejumlah fasilitas, menyebabkan dua warga meninggal dunia, dua luka berat, dan 513 warga mengungsi. Kerusakan meliputi bangunan pemerintahan, 19 rumah rusak berat, 42 hektare sawah, lima ruas jalan, dan dua jembatan.
Pencarian korban dilakukan sejak hari pertama hingga kedua korban ditemukan pada 22 dan 25 September. Pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Basarnas, PMI, dan relawan bergerak bersama melakukan evakuasi, pembersihan material, serta penanganan dampak bencana. Fokus penanganan kemudian bergeser pada pembersihan material galodo dan pemulihan kawasan dengan mengerahkan alat berat seperti excavator, dump truck, dan peralatan pendukung lainnya.
Pemerintah pusat melalui BNPB menyalurkan bantuan logistik dan personel, sementara sejumlah pejabat pusat termasuk Menko PMK, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Menteri Dalam Negeri mengunjungi lokasi. Status tanggap darurat diperpanjang hingga 12 Oktober 2026. Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan pembangunan sistem peringatan dini terpadu dan sabo dam untuk mengurangi risiko material dari hulu.
Di balik bencana, kerja panjang berbagai pihak terus berlanjut dari pencarian korban hingga pemulihan infrastruktur dan layanan publik. Arosuka kini berada dalam fase bangkit dengan memastikan setiap langkah penanganan benar-benar dirasakan masyarakat terdampak.