Pakar pendidikan dan psikologi menggelar diskusi edukatif di Panggung Utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis, 1 Oktober 2026. Acara ini dihadiri ratusan pelajar dan menyoroti pentingnya konsistensi belajar serta bahaya kebiasaan begadang menjelang ujian.
Psikolog anak dan remaja Wikan Putri Larasati memaparkan teori Hukum Jost, yang menekankan bahwa pembagian durasi belajar dalam frekuensi lebih sering—misalnya 3 jam per hari selama 5 hari—lebih efektif dibanding belajar 5 jam per hari selama 3 hari. Pengulangan berkala membantu memperkuat koneksi saraf dan retensi memori jangka panjang, sementara kelelahan fisik akibat belajar berlebihan justru menghambat kemampuan penalaran.
Mahasiswa ITB peraih nilai TKA tertinggi 2025, Farelevi Alfasahbary, berbagi pengalaman bahwa menjaga stamina fisik sama pentingnya dengan menguasai teori. Ia menekankan belajar konsisten 1–2 jam sehari lebih baik daripada begadang, karena begadang merusak kesehatan dan memori jangka panjang.
Ketua MGMP Matematika SMA DKI Jakarta, Iman Santoso, menambahkan bahwa tubuh memerlukan pemulihan sel optimal, dan waktu belajar paling telat sebaiknya jam 03.00 atau 04.00 pagi. Pola istirahat buruk dapat merusak metabolisme dan melemahkan daya tangkap kognitif, sehingga pelajar diimbau membenahi pola belajar harian untuk hasil ujian optimal.