Dakwah Digital Harus Berbasis Ilmu, Bukan Sekadar Mengejar Viralitas | LPP RRI

Sabtu, 10 Oktober 2026 pukul 17.50
Dakwah Digital Harus Berbasis Ilmu, Bukan Sekadar Mengejar Viralitas | LPP RRI

Sumber Berita Asli

Berita Pusat Pemberitaan Hari Ini | LPP RRI

Baca di Website Asli ↗
Perkembangan media sosial dan AI membuka peluang besar bagi dakwah Islam digital, namun juga menghadirkan tantangan seperti hoaks keagamaan, informasi tanpa konteks, dan konten yang hanya mengejar popularitas. Hal ini menjadi pembahasan dalam kegiatan DIGITALK Komdigi bertema "Literasi Digital dan Tantangan Dakwah Masa Kini" di Universitas Darul 'Ulum Jombang, Kamis (27/8/2026), dengan menghadirkan akademisi, pegiat literasi, dan pengelola media sosial. Akademisi Fisipol Undar Jombang Mukari menegaskan konten populer belum tentu memiliki dasar keilmuan yang kuat. Ia mengingatkan algoritma media sosial dapat memperkuat pandangan tertentu dan mengurangi dialog sehat, sehingga masyarakat perlu kritis. Mukari juga menyoroti tantangan AI generatif yang membutuhkan verifikasi, serta memperkenalkan konsep 5T: Telusuri Sumber, Tinjau Konteks, Timbang Otoritas, Tes Silang, dan Tahan Sebar. Pegiat literasi Aulia Alvi menyampaikan dakwah tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga perilaku dan keteladanan yang dapat disampaikan melalui video, foto, tulisan, dan platform media sosial. Ia menekankan pentingnya literasi mandiri melalui kebiasaan belajar, berpikir kritis, mengatur waktu, dan refleksi diri. Pengelola media sosial Ulinnuhaa mengingatkan literasi digital juga mencakup kemampuan membedakan fakta dan opini serta memastikan kredibilitas sumber. Ia menekankan prinsip tabayyun dan nilai Aswaja seperti tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal dalam dakwah digital. Kegiatan ini diharapkan membentuk masyarakat kritis dan bertanggung jawab, dengan dakwah digital yang mengedepankan ilmu, etika, dan persatuan, bukan sekadar viralitas.

Berita Terkait Lainnya