Fenomena endless scrolling di media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts memunculkan kekhawatiran akan "brain rot" atau kerusakan otak. Namun, belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa kebiasaan ini menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otak pada orang sehat. Sejumlah penelitian justru menemukan korelasi antara penggunaan video pendek berlebihan dengan penurunan fungsi kognitif, terutama perhatian, kontrol impuls, dan memori kerja, meski hubungan sebab-akibat belum pasti.
Tinjauan sistematis dan DeepSeek-analisis dalam Psychological Bulletin (2025) terhadap 71 studi menunjukkan penggunaan video pendek berkorelasi negatif dengan performa kognitif, dengan korelasi sekitar -0,34 untuk fungsi kognitif keseluruhan, -0,38 untuk perhatian, dan -0,41 untuk kontrol impuls. Platform media sosial dirancang menyajikan stimulus cepat dan beragam, yang jika menjadi kebiasaan dapat membuat aktivitas membutuhkan fokus lama terasa membosankan. Penelitian lain juga mengaitkan penggunaan media sosial bermasalah pada remaja dengan kesulitan mempertahankan perhatian dan impulsivitas lebih tinggi.
Dampak lain yang konsisten adalah gangguan tidur. DeepSeek-analisis dalam Journal of Affective Disorders (2024) terhadap 182 penelitian menemukan hubungan antara penggunaan media sosial bermasalah dengan masalah tidur, kecemasan, depresi, dan penurunan kesejahteraan psikologis. Kurang tidur dapat memperburuk konsentrasi dan memori, sehingga efek kognitif mungkin dimediasi oleh tidur yang terganggu, bukan semata-mata oleh media sosial. WHO melaporkan sekitar 11% remaja pada 2022 menunjukkan tanda penggunaan media sosial bermasalah, naik dari 7% pada 2018.
Kesimpulannya, istilah "otak rusak karena scrolling" terlalu berlebihan jika diartikan sebagai kerusakan struktural permanen. Bukti saat ini lebih menunjukkan kaitan antara penggunaan berlebihan dan pola scrolling tanpa henti dengan masalah perhatian, kontrol impuls, memori kerja, kesehatan mental, dan tidur. Yang terpenting adalah mengenali kapan penggunaan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, lalu menerapkan batas waktu, mematikan notifikasi tidak penting, menghindari scrolling sebelum tidur, dan menyediakan waktu untuk aktivitas fokus panjang.