Sekitar sembilan dari sepuluh penderita depresi di Indonesia belum mendapatkan pengobatan medis. Kementerian Kesehatan mencatat hanya 12,7 persen dari sekitar 3 juta penderita depresi yang telah memperoleh layanan kesehatan, dengan beban tertinggi pada kelompok usia muda 15-24 tahun. Prevalensi depresi pada penduduk di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023.
Stigma sosial masih menjadi hambatan utama bagi masyarakat untuk mencari pertolongan medis, yang turut berkontribusi terhadap praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa. Data IHME 2023 menempatkan gangguan jiwa sebagai penyebab terbesar kedua tahun hidup dengan disabilitas di Indonesia, dengan depresi, gangguan kecemasan, dan skizofrenia sebagai kontributor utama.
Keterbatasan tenaga kesehatan jiwa dan ketimpangan distribusinya memperparah masalah. Indonesia hanya memiliki 1.495 psikiater atau satu psikiater untuk sekitar 180.000 penduduk, jauh dari standar WHO satu per 30.000. Dari 3.513 psikolog klinis, baru 213 ditempatkan di Puskesmas, dan baru 64 persen Puskesmas yang mampu menyediakan layanan kesehatan jiwa.
Kemenkes telah melakukan skrining terhadap 71,86 juta penduduk dan menemukan indikasi gejala depresi tertinggi pada ibu hamil dan nifas sebesar 7,1 persen. Pemerintah meluncurkan buku saku skrining kesehatan jiwa dan menyediakan layanan Healing119.id yang telah diakses 284.916 pengguna. Wakil Menteri Kesehatan menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan inklusif bagi penyandang masalah kejiwaan.