Industri alas kaki Indonesia tengah menghadapi tekanan berlapis akibat pelemahan permintaan domestik dan hambatan regulasi, menjadikannya satu-satunya subsektor yang mengalami kontraksi per Agustus 2026 dari total 23 subsektor industri KBLI 15.
Sekjen Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, menyebut bahwa meski produksi masih ekspansif, pesanan dan persediaan barang terus menurun. Hal ini menunjukkan lemahnya penyerapan pasar dan menurunnya daya saing produk nasional.
Tekanan tersebut diyakini telah berlangsung sejak periode Ramadan dan Lebaran tahun lalu hingga pertengahan tahun ini. Konsumen kinisemakin selektif dan sensitif terhadap harga.
Di sisi lain, biaya produksi yang terus membengkak membuat ruang bagi industri untuk menaikkan harga jual menjadi semakin sempit, sehingga semakin memperberat kondisi pelaku usaha.