Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia pada Juli 2026 mengalami surplus sebesar US$120 juta, nyaris sesuai dengan proyeksi pasar yang memperkirakan angka impas setelah dua bulan defisit.
Meski mencatat surplus, Kepala Departemen Riset Makroekonomi Bank Permata, Faisal Rachman, menegaskan bahwa neraca dagang RI tetap rentan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan, yang berpotensi menjaga permintaan domestik tetap kuat dan mendorong peningkatan impor.
Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat akibat melemahnya permintaan global serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menambah risiko kenaikan harga minyak global, yang dikhawatirkan akan semakin membengkakkan nilai impor migas Indonesia.