Defisit neraca perdagangan non-migas Indonesia dengan Tiongkok semakin melebar, mencapai US$17,67 miliar sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Angka ini menjadikan Tiongkok mitra dagang dengan defisit terbesar bagi Indonesia.
Berdasarkan data BPS, defisit ini terjadi karena nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok hanya sebesar US$40,62 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan nilai impor yang mencapai US$58,29 miliar pada periode yang sama.
Komoditas penyumbang defisit terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanik (US$12,45 miliar), serta mesin dan perlengkapan elektrik (US$12,41 miliar). Selain itu, komoditas plastik dan barang dari plastik juga turut menyumbang defisit senilai US$3,35 miliar.