PT KAI menargetkan jaringan rel aktif mencapai 60.000 kilometer pada 2045 sebagai bagian dari transformasi menjadi operator kereta api berstandar dunia. Saat ini panjang rel aktif baru sekitar 6.700 km, dengan target peningkatan menjadi lebih dari 7.000 km pada 2030. Pengembangan jalur meliputi Trans Sulawesi, jaringan Kalimantan, dan konektivitas penuh Sumatra dari Lampung hingga Aceh, dengan estimasi kebutuhan anggaran hingga Rp1.200 triliun hingga 2045.
Pembiayaan akan didorong melalui APBN, APBD, kerja sama pemerintah dan badan usaha, serta investasi swasta dan luar negeri. Alokasi APBN 2026 untuk KA hanya sekitar Rp5 triliun, jauh di bawah jalan nasional Rp46 triliun, namun anggaran Kemenhub 2027 naik menjadi Rp32,93 triliun dengan prioritas pengembangan jaringan kereta. BPI Danantara menetapkan tambahan 12.100 km rel hingga 2030, termasuk pengembangan di Jawa-Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
KAI juga mengubah struktur pendapatan dengan memperkuat bisnis Transit Oriented Development (TOD), yang saat ini baru menyumbang 4 persen dibandingkan farebox dan logistik 96 persen. Kawasan hunian di Manggarai dikembangkan dengan target 5.000 unit pada 2027. Transformasi layanan mencakup face recognition boarding gate, integrasi commuter, kereta bandara, LRT/MRT, serta layanan kereta ekonomi kerakyatan dengan tarif Rp3.000.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, pelanggan KAI mencapai 351,6 juta, naik 7,09 persen dari periode yang sama 2025. KAI Commuter menyumbang 277,3 juta pelanggan, LRT Jabodebek naik 19,05 persen, dan Whoosh melayani 4,08 juta penumpang. Kereta api dinilai lebih ramah lingkungan karena menyumbang kurang dari 1 persen emisi karbon dibandingkan transportasi darat yang didominasi kendaraan pribadi sekitar 89 persen.