Rupiah ditutup melemah 0,18% ke Rp17.907/US$ pada perdagangan spot, Senin (5/10/2026), meskipun harga minyak mentah turun 0,86% menjadi US$101,37 per barel. Pelemahan rupiah terjadi bersama sebagian mata uang Asia lainnya seperti baht Thailand, dolar Singapura, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan yuan offshore, sementara won Korea Selatan, dolar Taiwan, yen Jepang, dan rupee India justru menguat.
Pergerakan yang tidak seragam ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang kawasan tidak hanya berasal dari harga minyak. Penurunan harga minyak memang sedikit meredakan kekhawatiran inflasi dan biaya impor energi, tetapi belum cukup menghilangkan tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi global.
Yield US Treasury tenor 10 tahun bertahan di sekitar 5,25%, mendorong indeks dolar AS naik 0,26% ke 102,2. Kondisi ini membuat aset berdenominasi dolar tetap relatif menarik bagi investor global.