Negara produsen rempah dunia sepakat mentransformasi industri dari ekspor bahan mentah menjadi produk hilir bernilai tinggi dalam pertemuan di Hotel Borobudur Jakarta. Executive Director International Pepper Community (IPC), Marina Novira Anggraini, menyoroti beragam tantangan yang saling berkaitan di tiap negara produsen, seperti tekanan iklim, biaya, tenaga kerja, dan perubahan standar pasar. Hilirisasi diyakini memperluas penetrasi pasar dan mengurangi ketergantungan pada penjualan biji lada kering yang merugikan petani.
Sektor kecantikan dan perawatan tubuh global mulai melirik ekstrak rempah, sementara inovasi kimia hijau membuka peluang produk olahan bersaing di pasar internasional. Peningkatan kapasitas mesin pengolahan di sentra produksi menjadi kunci percepatan industrialisasi perkebunan rakyat.
Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri, Ditya Agung Nurdianto, menegaskan pemerintah menyusun peta jalan jangka panjang untuk memperkuat ekosistem pengolahan domestik, dengan petani sebagai inti transformasi. Direktur Perundingan WTO Kemendag, Dina Kurniasari, menekankan pentingnya sertifikasi indikasi geografis dan diplomasi dagang agar produk hilir negara berkembang tidak didiskriminasi tarif ekspor.
Negara anggota forum terus menyelaraskan standardisasi uji laboratorium untuk menekan penolakan kargo, sementara keterlibatan swasta nasional mempercepat adopsi teknologi pengemasan higienis. Hilirisasi diyakini memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari krisis.