Negara produsen lada dunia memacu transformasi industri hilir untuk melepaskan ketergantungan ekspor bahan mentah berharga rendah. Pembahasan hilirisasi rempah ini berlangsung dalam pertemuan internasional di Hotel Borobudur Jakarta pada 30 September 2026, yang menekankan pentingnya pengembangan rantai nilai produk olahan rempah bermutu tinggi.
Executive Director International Pepper Community (IPC) Marina Novira Anggraini memaparkan dinamika perdagangan lada global, termasuk tekanan iklim, kenaikan biaya, keterbatasan tenaga kerja, dan perubahan standar pasar yang saling tumpang tindih. Potensi pasar produk turunan rempah disebut membuka peluang komersial bernilai miliaran dolar AS, sehingga transisi dari ekspor mentah ke industri hilir bernilai tinggi menjadi semakin mendesak.
Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri Ditya Agung Nurdianto menegaskan fokus bukan sekadar memproduksi dan mengekspor lebih banyak lada, melainkan menciptakan nilai tambah melalui penguatan pengolahan, inovasi, merek, indikasi geografis, mutu, keamanan pangan, keberlanjutan, dan ketertelusuran. Program Serasa Rempah Indonesia diluncurkan untuk mempromosikan produk olahan modern ke pasar global.
Direktur Perundingan WTO Kementerian Perdagangan Dina Kurniasari menyoroti tantangan seperti volatilitas harga global, alih fungsi lahan, penurunan produktivitas, serta tekanan hama dan penyakit. WTO menyediakan kerangka kerja perdagangan pertanian internasional, sementara IPC menangani isu spesifik lada, dengan koordinasi antarnegara produsen dan pelibatan pihak swasta seperti PT Haniori dan Billiton diyakini mampu memperkuat industri lada global yang berdaya saing, tangguh, dan berkelanjutan.