Seorang klimatolog asal Chile, Patricio Gonzalez Colville, memperingatkan bahwa fenomena El Nino tahun ini akan memperburuk kondisi ekonomi di Amerika Latin dan Karibia, terutama melalui gangguan curah hujan dan kenaikan suhu ekstrem. Dampak utama akan dirasakan di sektor pertanian, yang berujung pada penurunan hasil panen, kenaikan harga pangan, peningkatan kemiskinan, dan potensi pengangguran.
Gonzalez menjelaskan bahwa El Nino saat ini berkategori kuat dan diperkirakan menjadi luar biasa antara November 2026 hingga Januari 2027. Amerika Tengah, khususnya wilayah 'koridor kering', akan menghadapi kekeringan ekstrem yang mengancam akses air bagi sekitar 11 juta orang yang bergantung pada pertanian keluarga, berisiko memperparah krisis pangan.
Dampak terburuk diprediksi terjadi di Brasil, di mana kekeringan di Amazon dapat memicu kebakaran hutan tak terkendali. Negara-negara Amerika Latin sangat rentan karena ekonomi mereka bergantung pada ekspor pertanian, sehingga El Nino berpotensi menurunkan keuntungan ekonomi secara signifikan.
Gonzalez juga menekankan bahwa perubahan iklim yang berpadu dengan El Nino telah membawa planet ini melewati titik tanpa jalan kembali, di mana 'normalitas' bukan lagi konsep iklim yang tetap. Sekitar 43 juta orang di Amerika Latin dan Karibia sudah mengalami kekurangan gizi, dan situasi ini dapat memburuk di negara seperti Kolombia.