Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengakui bahwa hilangnya pasokan energi murah dari Rusia telah menghantam perekonomian Uni Eropa secara telak. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi bisnis di Paris.
Von der Leyen menegaskan bahwa fondasi kemakmuran ekonomi Eropa kini telah runtuh. Model pertumbuhan yang selama bertahun-tahun bergantung pada energi murah tidak lagi dapat diandalkan.
Kondisi ini berawal dari pemangkasan drastis impor minyak dan gas Rusia pasca-eskalasi konflik Ukraina 2022, yang diperparah oleh dinamika geopolitik global memperketat pasokan energi.
Akibatnya, harga energi di Eropa kini bertahan dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat dan China, membuat kawasan tersebut tertinggal jauh dari para pesaing utamanya.