Panel discussion "Fashion and Craftsmanship: Rethinking the Fashion of Tomorrow" oleh Kedubes Prancis, LAKON Indonesia, dan JF3 Fashion Festival menyoroti pentingnya menjaga identitas dan kearifan lokal dalam industri fesyen global. Para pelaku industri dari Indonesia dan Prancis sepakat bahwa pengembangan brand tidak hanya soal meningkatkan jumlah produksi massal, melainkan juga memperkuat nilai karya dan keterampilan artisan.
Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, menekankan bahwa konsep scaling up dalam fesyen harus diartikan sebagai peningkatan kemampuan desainer dan pengrajin. Artisan dianggap bukan sekadar tenaga pembuat, melainkan bagian integral dari proses kreatif yang memiliki teknik serta keunikan tradisi turun-temurun.
Di sisi bisnis, desainer jenama muda menghadapi tantangan dalam mendapatkan material berkualitas untuk produksi skala kecil. Namun, perubahan perilaku konsumen kini justru menjadi peluang, di mana pasar semakin tertarik untuk mengetahui cerita dan manusia di balik sebuah karya fesyen.
Sektor fesyen dan kriya Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif dengan nilai PDB mencapai Rp120,13 triliun pada Triwulan I 2026. Tantangan utama ke depan adalah bagaimana industri ini dapat memasuki pasar global dengan membawa identitas serta warisan budaya yang kuat, tanpa kehilangan nilai aslinya.