Ekonom Senior Didik J Rachbini menekankan perlunya Indonesia mengadopsi kebijakan ekonomi berorientasi keluar (outward looking) untuk menstabilkan dan memperkuat nilai tukar rupiah. Menurutnya, ketergantungan berlebih pada pasar domestik hanya menghasilkan perputaran rupiah tanpa mendatangkan cadangan devisa dolar yang signifikan.
Didik menyoroti bahwa cadangan devisa Indonesia sebesar 145,3 miliar dolar AS pada Juli 2026 masih tergolong lemah dibandingkan negara ASEAN lain seperti Singapura dan Thailand. Selain itu, ekspor komoditas mentah seperti batu bara dan nikel dinilai belum optimal karena sangat bergantung pada fluktuasi harga global.
Indonesia juga menghadapi tantangan dalam menarik investasi asing akibat faktor penghambat seperti korpusi, ketidakpastian hukum, dan biaya transaksi yang mahal. Padahal, investasi asing tersebut sangat dibutuhkan untuk mendatangkan devisa segar ke dalam negeri.
Berdasarkan analisis menyeluruh, Didik memprediksi Bank Indonesia akan menghadapi kesulitan menstabilkan rupiah dalam lima tahun ke depan jika tidak segera memperbaiki daya saing sektor ekstoral dan hanya mengandalkan instrumen suku bunga.