Dari pit ke katoda: Menjaga nadi pertambangan terus berdetak

Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 09.57
Dari pit ke katoda: Menjaga nadi pertambangan terus berdetak

Sumber Berita Asli

Berita Terkini - ANTARA News

Baca di Website Asli ↗
Dari setiap tanah dan bebatuan yang diambil dari perut bumi, hasilnya kini tak lagi berhenti sebagai konsentrat. Ia diolah menjadi katoda tembaga, aneka logam mulia, hingga asam sulfat, lalu bergerak lebih jauh, menghidupkan aktivitas ekonomi di berbMataram (ANTARA) - Aktivitas pagi dimulai dengan suara bising kendaraan raksasa yang menggetarkan tanah di kawasan jantung tambang Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).Konvoi truk tambang berwarna jingga menyala sebesar rumah dua lantai merayap perlahan melintasi jalan kerikil yang dibuat berundak seperti amfiteater raksasa.Bak belakang truk penuh sesak mengangkut material mentah hasil galian tadi malam. Kepulan partikel debu yang terbentuk saat kendaraan itu melintas menandakan perjalanan panjang baru saja dimulai.Dari dasar open pit atau tambang terbuka yang sangat dalam, truk-truk jungkit hilir mudik mengangkut tanah dan bongkahan batu kasar yang mengandung unsur mineral menuju ke kawasan smelter.Fasilitas smelter merupakan bagian terpenting untuk memproduksi logam, industri manufaktur, dan konstruksi. Lokasi smelter yang berada tak jauh dari sumber deposit mineral berfungsi agar transportasi bahan baku menjadi lebih hemat biaya.Di fasilitas smelter yang menjadi penopang denyut nadi industri pertambangan, konsentrat dihancurkan, kemudian masuk ke proses peleburan dalam tungku dengan suhu sangat tinggi hingga menjadi logam cair.Setelah itu, logam dimurnikan dengan metode tambahan untuk menghilangkan impurita agar menjadi beragam produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi.Topografi perbukitan terjal adalah saksi bisu tentang usaha keras manusia mengoptimalkan potensi mineral dari perut bumi untuk digunakan oleh peradaban sebagai bahan baku industri, komponen alat elektronik, bahan infrastruktur, serta penunjang sektor kesehatan dan ekonomi.Di tengah terik dan kabut debu saat musim kemarau, serta basah dan berlumpur saat musim hujan, setiap putaran roda truk jungkit serta hawa panas smelter merupakan langkah menuju nilai tambah. Rutinitas harian ini bukan lagi sekadar menambang, tapi mengolah dan memurnikan untuk Indonesia.Baca juga: Membaca arah di balik angka pertumbuhan ekonomi NTBRantai nilai hilirisasiBagi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang menjalankan aktivitas pertambangan di kawasan Batu Hijau dan Elang, perjalanan mengoperasikan smelter belum sepenuhnya berjalan mulus.Fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral dengan kapasitas desain 900 ribu ton konsentrat tembaga per tahun itu sempat menghadapi berbagai kendala saat memasuki tahapan komisioning sejak Juni 2024.Editor: Dadan Ramdani Copyright © ANTARA 2026 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Berita Terkait Lainnya