China telah diam-diam menghabiskan waktu bertahun-tahun dan puluhan miliar dolar untuk membangun cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 1 hingga 1,4 miliar barel. Timbunan raksasa ini memberi Beijing kekuatan besar atas pasar minyak global sekaligus menjadi perisai pertahanan kritis terhadap intervensi Barat.
Cadangan strategis ini memungkinkan China memangkas impor minyak secara drastis saat terjadi konflik, sehingga berhasil menahan lonjakan harga global dan mengamankan ekonominya dari guncangan. Analisis menyebut minyak tidak lagi menjadi titik lemah China, mengubah lanskap kerentanan geopolitiknya, terutama terkait potensi eskalasi seperti konflik Taiwan.
Untuk mempercepat penimbunan, China memanfaatkan "armada bayangan" guna memborong minyak diskon dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi. Langkah ini didukung oleh transisi cepat ke energi terbarukan dan tingginya adopsi kendaraan energi baru (NEV), yang secara efektif mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
Meski begitu, strategi agresif ini bukalan tanpa risiko ekonomi. Pembatasan impor dan ekspor produk minyak terbukti membawa konsekuensi bagi bisnis kilang dan berkontribusi pada perlambatan produksi industri Negeri Tirai Bambu di kuartal kedua.