Para petani AS menghadapi krisis keuangan terburuk dalam empat dekade akibat lonjakan harga solar dan pupuk pascaperang dengan Iran. Konflik yang pecah pada Februari membuat Iran memblokir Selat Hormuz, yang memutus sebagian besar pasokan energi dunia.
Krisis ini memicu kerugian masif bagi sektor pertanian AS. Federasi Biro Pertanian Amerika memprediksi penanam sembilan tanaman utama akan merugi hingga US$31 miliar (Rp548,7 triliun) tahun ini, dan angka itu diperkirakan akan terus meningkat tahun depan jika tanpa bantuan federal.
Selain faktor perang, para petani juga dilanda anomali cuaca, kekeringan, dan perselisihan perdagangan yang melemahkan ekspor ke Tiongkok. Pemerintahan Trump bahkan harus memohon tambahan bantuan US$11 miliar (Rp194,7 triliun) kepada Kongres untuk menyelamatkan sektor ini.
Lonjakan biaya dan hancurnya sektor pertanian ini memicu kekhawatiran baru. Inflasi diproyeksikan akan melesat kembali melampaui target 2% yang ditetapkan Federal Reserve, menjelang pemilihan paruh waktu bulan November yang akan menentukan kendali Kongres AS.