India mempercepat pengembangan industri semikonduktor dalam negeri dengan strategi "belajar dari para jagoan" Asia seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang, tanpa harus mengulang 30 tahun pengembangan. Pemerintah telah menyetujui 12 proyek manufaktur bernilai investasi Rp304,6 triliun, dengan lima pabrik pengemasan dan pengujian (ATP) sudah beroperasi komersial. Perusahaan seperti Kaynes Semiconductor merekrut veteran industri dari Filipina dan Malaysia untuk mentransfer pengetahuan ke tenaga lokal, sementara program Semicon 2.0 senilai Rp235,9 triliun difokuskan pada membangun ekosistem rantai pasok lengkap, termasuk bahan kimia, gas khusus, dan peralatan fabrikasi.
Tantangan utama saat ini adalah ketergantungan impor untuk komponen kritis seperti gas wafer (hanya 12 dari 50 jenis diproduksi lokal) dan peralatan presisi tinggi. India juga menarik investasi asing, seperti Lam Research (AS) dan ASMPT (Singapura), untuk membangun basis manufaktur komponen di Gujarat. Dalam menghadapi risiko geopolitik, India mengadopsi strategi "de-risking" dengan mendiversifikasi rantai pasok, bekerja sama dengan pemasok Jepang (Fujifilm, Sumitomo), namun tidak memutus hubungan sepenuhnya dengan China yang tetap menjadi sumber bahan baku penting.
Jangka panjang, India bertarget bertransformasi dari pembeli chip terbesar (impor Rp427,2 triliun pada 2024) menjadi pemasok global melalui pendekatan "India Plus Many". Fokus awal ditujukan pada pengemasan canggih (advanced packaging) dan material semikonduktor yang memiliki hambatan masuk lebih rendah dibanding fabrikasi wafer skala besar (target operasi 2028). Kunci keberhasilan menurut para pakar adalah menguasai niche spesifik dalam ekosistem hingga menjadi sulit digantikan, sehingga memperoleh daya tawar dalam rantai pasok global.