Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Singkong-APP, formulasi retardan api berbahan pati singkong dan amonium polifosfat (APP), untuk mengatasi kebakaran lahan gambut yang sulit dipadamkan karena api dapat merambat di bawah permukaan. Peneliti menjelaskan bahwa kebakaran gambut menyisakan bara dan panas yang dapat memicu api kembali muncul saat oksigen masuk melalui celah material.
Singkong-APP bekerja dengan memanfaatkan reaksi kimia saat terpapar panas; APP terdekomposisi menghasilkan asam fosfat dan amonia, lalu asam fosfat berinteraksi dengan pati membentuk lapisan arang (char) yang menghambat perpindahan panas, menghalangi akses bahan bakar, dan memutus suplai oksigen. Formulasi juga menggunakan alkyl polyglucoside (APG) untuk menurunkan viskositas agar mudah disemprotkan dan menembus lapisan bawah.
Dalam pengujian awal pada media simulasi, Singkong-APP hanya membutuhkan 65 liter cairan dan 15 menit aplikasi, dibandingkan air yang memerlukan 120 liter dan 23 menit 35 detik. Setelah 60 menit, tidak ditemukan titik api pada perlakuan Singkong-APP, sedangkan pada air masih ada enam titik api.
Meski hasil awal menjanjikan, pengujian masih terbatas pada media simulasi dan diperlukan scale-up. Tantangan lain adalah penyediaan APP yang belum tersedia di Indonesia sehingga harus disintesis, serta perlunya reaktor aman karena proses menghasilkan amonia beracun.