Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, mengecam pemerintah Lebanon yang memilih jalur negosiasi langsung dengan Israel. Ia menyebut langkah tersebut memalukan dan menolak kesepakatan kerangka kerja yang ditandatangani kedua belah pihak di AS pada Juni 2026.
Qassem menilai perundingan tersebut tidak menghentikan perang, melainkan memberikan legitimasi bagi agresi Israel. Ia menuduh pemerintah Lebanon mengorbankan rakyat dan negara demi mempertahankan kekuasaan serta menyenangkan AS yang bersekongkol dengan Israel.
Terkait situasi lapangan, Qassem menyebut konflik saat ini bukanlah perang timbal balik, melainkan agresi Israel yang intensitasnya naik turun. Ia mengaitkan penurunan intensitas serangan dengan Iran dan sejumlah nota kesepahaman.
Meski menegaskan Hizbullah tidak menginginkan perang dan tetap komitmen pada kesepakatan November 2024, Qassem memperingatkan bahwa Lebanon Selatan tidak akan stabil bagi Israel selama masih ada perlawanan. Ia juga mengklaim Hizbullah telah menggagalkan proyek Israel Raya.