Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengungkapkan telah terbit 48 buku sejak Pusat Studi Kepolisian resmi berdiri. Ia menegaskan pusat studi harus menjadi ruang tumbuhnya pemikiran dan penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi Polri dan masyarakat, tidak berhenti pada diskusi dan seminar semata.
Karya-karya tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari ilmu kepolisian, hukum, kriminologi, keamanan, sumber daya manusia, teknologi, digital policing, hingga pembangunan nasional. Beberapa di antaranya karya Wakapolri sendiri, seperti 'Teknologi Kepolisian: Automasi dalam Dinamika Keamanan Modern', 'Rasa Bhayangkara Nusantara' tentang pemberantasan TPPO, serta 'Mengawal Pangan Menuai Aman'.
Menurut Dedi, pengembangan ilmu kepolisian merupakan bagian penting dalam membangun evidence-based policing, yakni kebijakan kepolisian yang didukung data, penelitian, ilmu pengetahuan, dan pengalaman empiris. Hubungan antara pusat studi dan satuan kerja harus terus diperkuat agar persoalan di lapangan dapat dikaji ilmiah dan hasilnya kembali memperbaiki praktik kepolisian.
Ia berharap buku-buku tersebut tidak hanya menjadi koleksi perpustakaan, melainkan bahan bacaan, referensi, dan kajian akademis bagi anggota Polri yang sedang bertugas. Wakapolri menegaskan 48 buku ini bukan titik akhir, melainkan awal dari tradisi transformasi pengetahuan yang harus terus hidup demi Polri yang profesional, modern, humanis, dan dipercaya masyarakat.