Google mulai menguji skema pembayaran kepada sekitar 100 penerbit digital yang kontennya dikutip dalam fitur AI Overview, mengakui bahwa fitur ini menggerus lalu lintas organik ke situs web asli. Besaran kompensasi bervariasi signifikan, mulai dari di bawah US$1.000 per tahun untuk situs kecil hingga lebih dari US$1 juta untuk penerbit besar, mencerminkan posisi tawar yang tidak setara.
Ini bukan sekadar berbagi pendapatan, melainkan strategi Google memastikan pasokan konten berkualitas sebagai 'bahan bakar' model AI agar jawaban tetap akurat dan terkini. Pembayaran berfungsi sebagai biaya pengadaan bahan baku untuk mempertahankan keunggulan produk AI Overview mereka.
Langkah ini menciptakan preseden industri bagi perusahaan AI lain yang memanfaatkan konten pihak ketiga, namun berisiko memperlebar kesenjangan antara media global berbahasa Inggris dengan penerbit lokal atau skala kecil yang berpotensi tersisih dari skema kompensasi.
Bagi ekosistem media Indonesia, perkembangan ini menimbulkan tekanan: apakah penerbit nasional akan mendapatkan perlakuan serupa, atau justru semakin terpinggirkan karena dominasi distributor konten global yang mengontrol alur trafik dan pendapatan.