Konferensi TechBBQ di Kopenhagen memicu perdebatan sengit mengenai kendali manusia atas kecerdasan buatan (AI), terutama setelah model AI Anthropic tiba-tiba tidak tersedia di Eropa. Insiden ini memaksa ekosistem Eropa berpikir ulang tentang pentingnya memiliki model dan infrastruktur AI mandiri, alih-alih sekadar menyewa kekuatan tersebut dari AS dan China.
Angel investor Ellen de Brever menegaskan bahwa era agen AI bukan soal mesin yang berotonomi, melainkan tentang penilaian manusia dalam menentukan kendali yang diserahkan. Ketergantungan pada kekuatan geopolitik besar dipandang sebagai ancaman serius bagi kedaulatan teknologi di masa depan.
Presiden Signal, Meredith Whittaker, mengkritik integrasi asisten AI ke dalam sistem operasi yang berisiko menjadi alat pengumpulan data masif. Ia menekankan bahwa permintaan pasar akan privasi tetap tinggi di tengah kekhawatiran kedaulatan data tersebut.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi peringatan penting bahwa layanan AI berbasis cloud rentan dibatasi sewaktu-waktu akibat alasan geopolitik atau regulasi. Regulator dan pelaku bisnis lokal perlu memantau respons Eropa, karena standar yang mereka tetapkan dapat menjadi acuan kebijakan privasi dan kedaulatan AI di Asia.