MI5 menerbitkan Security Service Espionage Alert yang menyoroti modus baru spionase teknologi, di mana pengetahuan strategis dapat bergerak melalui pendanaan penelitian, kolaborasi universitas, perekrutan profesional, dan proyek akademik lintas negara. Badan keamanan Inggris itu menilai China General Technology Research Institute (CGTRI) memiliki hubungan kuat dengan Ministry of State Security (MSS) China dan bertujuan mendanai penelitian yang meningkatkan kemampuan spionase MSS.
Lebih dari 100 akademisi yang terkait dengan Inggris disebut telah berkontribusi pada proyek penelitian yang didanai MSS melalui CGTRI, mencakup bidang artificial intelligence, cybersecurity, sistem komunikasi tersembunyi, dan steganografi. Sebagian peneliti bahkan mungkin tidak menyadari siapa sumber akhir pendanaan tersebut, sehingga kegiatan akademik yang tampak normal dapat memberi manfaat strategis kepada badan intelijen asing.
MI5 menekankan bahwa ancaman negara asing tidak hanya menyasar pemerintah atau badan intelijen, tetapi juga kemitraan akademik, rantai pasok, perusahaan teknologi, dan penelitian STEM, terutama teknologi dual-use. NPSA melalui pedoman Trusted Research menyebut kerja sama internasional dapat memberi aktor negara akses terhadap manusia, jaringan TI, dan penelitian sensitif tanpa perlu spionase tradisional atau serangan siber.
Sebelumnya, pada 3 Juni 2026, aliansi intelijen Five Eyes mengeluarkan bulletin bersama mengenai operasi perekrutan daring yang dikaitkan dengan intelijen militer China, di mana perwira intelijen menyamar sebagai perekrut atau konsultan perusahaan samaran di platform seperti LinkedIn, Indeed, dan Upwork untuk mendapatkan informasi sensitif.