Peristiwa Operasi Trisula pada 1968 di Blitar Selatan, Jawa Timur, menjadi babak kelam sejarah Orde Baru yang belum banyak diketahui publik, di mana ribuan warga sipil—sebagian besar petani—ditangkap dan disiksa tanpa proses hukum karena dituduh simpatisan komunis. Lebih dari setengah abad berlalu, para penyintas yang masih hidup semakin rentan oleh usia dan membawa trauma seorang diri, sementara dokumentasi visual atas kekerasan yang mereka alami sangat terbatas.
Persoalan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam pemutaran dan diskusi film dokumenter "The Last Supper (Whisper)" karya sutradara Daniel Rudi Haryanto, yang diselenggarakan PRAKSIS di Jakarta pada Jumat (25/9/2026). Film ini mengangkat kisah tiga mantan tahanan politik korban Operasi Trisula: Markus Talam (87), Suyatman (76), dan Soekiman yang meninggal pada 2020 dalam usia 72 tahun. Ketiganya adalah petani biasa yang ditahan tanpa pengadilan; Soekiman dan Suyatman dibebaskan setelah mengalami penyiksaan, sedangkan Talam menjalani satu dekade kerja paksa di Pulau Buru. Mereka hanya menerima "Surat Pelepasan Sementara", bukan pembebasan penuh.
Trauma yang mereka bawa berlangsung puluhan tahun. Talam terbayang gedoran aparat militer setiap kali mendengar gamelan, sementara Suyatman terus dibayangi eksekusi saudarinya di Goa Tikus. Stigma sebagai "komunis", perampasan tanah dan kebun, serta larangan bekerja di instansi pemerintah terus menghantui mereka dan keluarga. Rudi menyatakan film ini didedikasikan bagi para korban kekerasan negara terhadap masyarakat sipil yang hingga kini masih memperjuangkan hak-haknya.
Diproduksi sejak 2017 hingga 2025, film ini memadukan animasi dan desain suara detail dengan simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan untuk menyelami trauma tanpa kehilangan konteks kekerasan. "The Last Supper (Whisper)" pertama kali ditayangkan di Jogja-NETPAC Film Festival 2025 dan diputar di FICAT, Prancis, pada April 2026.