Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyatakan bahwa Irak telah memasuki fase baru "kedaulatan" setelah penarikan koalisi pimpinan AS dari negara tersebut, menandai berakhirnya misi 12 tahun. Dalam upacara tersebut, al-Zaidi menekankan kekuatan institusi, kesiapan pasukan, dan kemitraan yang seimbang dengan negara sahabat. Penarikan ini menimbulkan kekhawatiran akan menguatnya proksi Iran di Irak, terutama karena kelompok-kelompok tersebut dapat memperluas peran dalam kebijakan negara. Analis politik Baghdad menilai bahwa ketiadaan kehadiran militer Barat dapat membuat proksi Iran semakin kuat dan berpengaruh di lembaga-lembaga penting.