Banjir bandang dahsyat di kawasan Pegunungan Himalaya, Nepal, telah meluluhlantakkan permukiman dan menyapu ratusan nyawa, dengan sedikitnya 579 orang tewas dan lebih dari 1.900 orang dinyatakan hilang. Bencana ini memisahkan banyak keluarga dan menyapu habis sejumlah desa.
Para penyintas di posko pengungsian menceritakan duka mendalam akibat bencana tersebut. Salah satunya, Murali Maiya Tamang, yang selamat dengan tergantung di dahan pohon, harus kehilangan putra tunggalnya setelah sebelumnya suaminya tewas pada gempa 2015. Kisah serupa juga dialami oleh Sangke Dolma Tamang yang suaminya tersapu arus dan putranya masih hilang.
Banyak warga masih menunggu kabar keluarga yang bekerja di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang Sungai Bhote Koshi. Puluhan pekerja dilaporkan terjebak dalam terowongan tertutup lumpur, meski sebagian telah berhasil dievakuasi.
Otoritas setempat dan militer Nepal terus melakukan operasi evakuasi udara tanpa henti untuk menjangkau wilayah terisolasi seperti Distrik Rasuwa akibat terputusnya jalur darat. Pemerintah mengimbau warga menjauhi area reruntuhan karena tanah yang labil berisiko memicu tanah longsor susulan.