Konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi kembali memanas setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya, menjadikannya serangan paling mematikan di wilayah Saudi dalam lebih dari satu dekade. Koalisi pimpinan Saudi menyalahkan Houthi dan menyebutnya sebagai kejahatan perang, sementara juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya menargetkan bandara tersebut dalam tiga tahap dan memperingatkan bandara Saudi tidak aman kecuali yang melayani Mekkah dan Madinah.
Serangan ini merupakan puncak eskalasi ketegangan selama musim panas, setelah gencatan senjata yang didukung PBB runtuh pada Juli akibat pemboman bandara Sanaa oleh Arab Saudi, yang diikuti blokade maritim Houthi terhadap kerajaan. Pasukan pemerintah yang didukung Saudi melancarkan serangan balik pada awal Oktober, dan utusan khusus PBB memperingatkan Yaman kembali mengalami perang berskala penuh.
Bentrokan sengit terus berlanjut di sekitar kota strategis Taiz, menyebabkan 130.000 orang mengungsi. Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, muncul di Yaman utara pada 1990-an dan bertujuan menguasai 30% wilayah Yaman serta mendirikan negara Syiah.
Eskalasi ini menandai babak baru konflik Yaman yang melibatkan aktor regional dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan lebih lanjut.