Sebanyak 46 orangutan dievakuasi dari hutan terbakar di Kawasan Arabella–Schwaner, Ketapang, setelah kebakaran menyisakan hanya sisa hutan dan perkebunan kelapa sawit. Korban seperti Mama Lifa dan anaknya Lifa, serta Mama Man dan Man, ditemukan terisolasi di antara pohon tersisa. Tim YIARI dan pihak terkait melakukan translokasi ke Hutan Lindung Batu Nyambu.
Lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, dan keterhubungan dengan kawasan hutan lindung lainnya. Kajian 2023 menunjukkan kawasan tujuan memiliki tutupan hutan primer dan sekunder serta daya dukung ekologis yang sufficient. Namun, Direktur Operasional YIARI Argitoeranting menekankan bahwa translokasi bukan solusi akhir; jika kebakaran terus berlanjut dan habitat tersisa terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan.
Sebagian orangutan masih menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, malnutrisi, dan anemia berat. Mereka membutuhkan waktu pemulihan sebelum dilepaskan ke habitat alami yang aman. Kepala KPH Ketapang Utara Ya' Suharnoto berharap translokasi diikuti patroli pengamanan rutin, sosialisasi masyarakat, serta penanaman pohon penghasil bunga dan buah untuk mendukung keberlangsungan hidup setelah dilepasliarkan.