Istilah ultra-processed food (UPF) semakin sering dibahas dalam konteks pola makan dan kesehatan, dan banyak orang menganggapnya harus dihindari. Namun, para ahli menilai persoalan pangan tidak sesederhana membedakan makanan yang diproses dan tidak diproses. Yang lebih penting adalah memahami proses pengolahan, kandungan gizi, tujuan produk, dan cara konsumsinya.
Perhatian terhadap UPF meningkat setelah WHO mulai menyusun pedoman konsumsi pangan ultra-proses pada 2025. Salah satu sistem klasifikasi yang digunakan adalah NOVA, yang membagi pangan menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahan. Meski demikian, pengelompokan ini tidak otomatis menunjukkan bahwa semakin banyak proses berarti kualitas pangan semakin buruk.
Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Prof. Purwiyatno Hariyadi, menyoroti bahwa istilah ultra-processed memberi kesan ada batas jelas, padahal tidak ada parameter tegas untuk menentukan kapan suatu pangan masuk kategori tersebut. Klasifikasi juga mempertimbangkan formulasi dan jenis bahan, yang berbeda dari proses pengolahan itu sendiri.
Menurutnya, tidak ada dasar ilmiah bahwa semakin kompleks pengolahan maka kualitas pangan pasti semakin buruk. Dalam industri pangan, metode seperti pemanasan, pasteurisasi, sterilisasi, fermentasi, pengeringan, dan pembekuan justru digunakan untuk meningkatkan keamanan, memperpanjang masa simpan, meningkatkan daya cerna, dan menghasilkan karakteristik yang dibutuhkan konsumen.