Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) menekankan pentingnya menghubungkan hasil riset kakao langsung dengan pekebun dan pasar melalui pusat unggulan terpadu atau "Center of Excellence" agar inovasi teknologi dapat diadopsi lebih mudah.
Konsep ini diharapkan menjadi hub teknologi yang mempertemukan kegiatan riset dengan penerapan di kebun, pelatihan pekebun, pembiayaan, hingga kebutuhan industri. Pendekatan teknologi juga akan disesuaikan dengan karakteristik sosial dan lingkungan dari masing-masing sentra produksi daerah.
Data Kementan mencatat 99,59 persen dari 1,37 juta hektare areal kakao nasional merupakan perkebunan rakyat dengan produktivitas rata-rata 715 kilogram per hektare per tahun, sehingga adopsi teknologi sangat krusial untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi pekebun.
Pemerintah melalui Kementan menargetkan pengembangan areal kakao seluas 174.260 hektare pada 2026, disertai program peremajaan, penerbitan STDB, dan uji coba kerangka Indonesia Sustainable Cocoa (ISCocoa) untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir.