Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah bergerak sideways pada perdagangan Jumat, dengan rentang Rp17.675 hingga Rp17.775 per dolar AS. Pada pembukaan pagi, rupiah sempat menguat 26 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.718 per dolar AS.
Pergerakan mata uang ini tengah dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap pidato Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam acara Jackson Hole Economic Policy Symposium. Pasar menanti petunjuk arah kebijakan moneter AS menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan September.
Selain itu, rupiah juga mendapat sentimen dari rilis indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang naik 0,2 persen secara bulanan, melampaui ekspektasi. Faktor lain yang turut berpengaruh adalah fluktuasi harga minyak global akibat masih tingginya tensi geopolitik.