Kementerian Keuangan melaporkan realisasi APBN hingga September 2026 tercatat defisit Rp319 triliun (1,24% PDB), lonjak tajam dari 0,9% di Agustus lalu. Meskipun demikian, Menteri Keuangan menegaskan target akhir tahun tetap 2,85% meski sudah melebar dari target awal 2,68%. Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai kinerja ini bergantung pada pertumbuhan penerimaan dan belanja hingga akhir tahun, dengan risiko terbesar dari penerimaan perpajakan yang hanya mencapai 68,6% target atau kekurangan Rp46,9 triliun. Untuk menutup selisih tersebut, penerimaan bulanan di kuartal IV harus meningkat sekitar sepertiga dibandingkan rata-rata sembilan bulan pertama.