Tingkat kelahiran yang terus menurun di sejumlah negara dan wilayah telah memicu kekhawatiran akan ancaman kepunahan populasi. Untuk mempertahankan jumlah penduduk tanpa migrasi, sebuah populasi membutuhkan tingkat kesuburan total sekitar 2,1 kelahiran per wanita, namun banyak negara kini jauh di bawah angka tersebut, bahkan ada yang kurang dari setengahnya. Korea Selatan menjadi kasus ekstrem dengan angka kelahiran di bawah 0,8 anak per wanita, sementara Hong Kong juga mencatat tingkat kesuburan yang sangat rendah, bahkan pernah di bawah Korea Selatan pada tahun-tahun tertentu.
Penurunan ini bukan fenomena jangka pendek akibat resesi atau pandemi, melainkan tren selama beberapa dekade yang terus berlanjut melewati masa pertumbuhan ekonomi dan berbagai insentif pemerintah. Penyebabnya saling tumpang tindih, seperti urbanisasi yang memusatkan kaum muda di kota dengan biaya perumahan tinggi, meningkatnya pendidikan dan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, jam kerja panjang, biaya penitipan anak dan pendidikan yang mahal, serta pernikahan yang semakin tertunda atau tidak terjadi sama sekali.
Dampaknya mulai terasa secara bertahap namun terakumulasi, seperti penggabungan sekolah dasar, penutupan jurusan universitas, beban sistem pensiun, hingga berkurangnya jumlah wajib militer. Pemerintah di negara-negara tersebut telah merespons dengan berbagai kebijakan, mulai dari bantuan tunai untuk bayi baru lahir, perpanjangan cuti orang tua, subsidi perawatan kesuburan, prioritas perumahan bagi keluarga muda, hingga pelonggaran aturan imigrasi, namun upaya tersebut belum mampu menghentikan penurunan angka kelahiran secara signifikan.
Kasus Korea Selatan dan Hong Kong menjadi sorotan utama. Di Korea Selatan, biaya bimbingan belajar swasta (hagwon), harga apartemen di Seoul, dan budaya kerja yang menuntut menjadi faktor utama yang menekan keputusan memiliki anak. Sementara di Hong Kong, ukuran apartemen yang kecil dan harga hunian yang termasuk tertinggi di dunia membuat pasangan harus menabung bertahun-tahun sebelum mempertimbangkan memiliki anak, sehingga banyak yang menunda berkeluarga.