Dr. Hendri menekankan bahwa transportasi umum harus menjadi strategi utama dalam menghemat energi nasional, bukan sekadar pelengkap bagi masyarakat. Sektor transportasi menyerap sekitar 36,11% kebutuhan energi dan 49% penggunaan BBM nasional, sehingga ketergantungan pada kendaraan pribadi terus membebani ketahanan energi, anggaran negara, dan kualitas udara.
Elektrifikasi kendaraan pribadi saja dinilai tidak cukup jika tidak diiringi perbaikan sistem transportasi. Mengganti BBM dengan listrik tanpa mengubah pola mobilitas tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan dan inefisiensi ruang. Oleh karena itu, elektrifikasi perlu diprioritaskan pada angkutan massal seperti bus dan kereta yang memiliki tingkat pemakaian tinggi.
Penulis juga menyoroti pentingnya ketersediaan layanan yang memadai sebelum memberlakukan pembatasan kendaraan pribadi. Masyarakat tidak dapat dipaksa beralih ke transportasi umum apabila layanannya belum aman, cepat, terjangkau, dan terintegrasi, sebagaimana tren positif yang telah ditunjukkan oleh TransJakarta, MRT, dan KAI Commuter.
Sebagai solusi, Dr. Hendri mengusulkan 10 agenda transportasi hemat energi. Agenda ini mencakup percepatan pembangunan BRT, integrasi antarmoda, perbaikan tata ruang berorientasi transit, reformasi kebijakan parkir, hingga peningkatan keselamatan penumpang.Transportasi umum dipandang sebagai investasi vital untuk menciptakan kota yang lebih adil, produktif, dan berkelanjutan.