Fenomena memutuskan pertemanan atau cut off akibat perbedaan pandangan politik kini marak terjadi di kalangan Gen Z. Perbedaan pilihan kandidat atau sikap terhadap isu kemanusiaan sering kali menjadi alasan utama untuk saling memblokir atau berhenti berteman di media sosial.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menjelaskan bahwa pilihan politik bagi Gen Z bukan sekadar preferensi kebijakan, melainkan penanda identitas sosial. Hal ini memunculkan sekat antara kelompok 'kita' dan 'mereka', sehingga perbedaan pendapat kerap dipersepsikan sebagai ancaman terhadap identitas.
Meski cut off dianggap lumrah saat terjadi ketegangan, Rakhmat memperingatkan bahwa pemutusan hubungan permanen dapat memperlebar polarisasi sosial. Kondisi ini berpotensi memicu konflik laten yang berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, Gen Z didorong untuk mendapatkan pendidikan politik yang kritis. Rakhmat menyarankan agar perbedaan politik dijadikan latihan hidup dalam keberagaman, dengan cut off sementara lebih disarankan ketimbang permanen.