China sedang mendominasi produksi robot humanoid dengan harga terjangkau dan cepat, menggeser dominasi Jepang. Kunci keunggulan China terletak pada pemanfaatan data egosentris, yaitu rekaman sudut pandang orang pertama, untuk melatih kecerdasan artifisial (AI) pada robot agar dapat meniru gerakan manusia dalam berinteraksi dengan benda sehari-hari.
Berbeda dengan Amerika Serikat yang harus mengalihdayakan pengumpulan data ke negara berkembang akibat biaya tenaga kerja yang mahal, China mampu mengumpulkan data secara lokal dan masif. Perusahaan seperti JD.com merekrut ratusan ribu pekerja lokal untuk merekam aktivitas sehari-hari mereka sebagai bahan pelatihan AI.
Selain itu, perusahaan robotik China juga menerapkan strategi uji coba langsung dengan menempatkan robot ke lingkungan konsumen, seperti layanan pembersih rumah atau uji coba gratis di rumah warga. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan variasi data lingkungan secara langsung dari lapangan.
Sementara itu, di AS, perusahaan rintisan seperti Micro1 dan Waffle Video mengadopsi model serupa dengan merekrut pekerja lepas global. Para pekerja dibayar secara akumulatif untuk merekam video kegiatan rumah tangga yang kemudian diproses dan diberi label sebelum digunakan oleh pengembang AI.